PENGERTIAN, KARAKTERISTIK, DAN IDENTIFIKASI
KULTUR SEKOLAH
A. Pengertian Kultur Sekolah
Kultur
sekolah menjadi daya tarik tertentu bagi konsumen untuk kemudian menggunakan jasa
pendidikan yang ditawarkan oleh sekolah. Semakin positif kultur sebuah sekolah,
maka konsumen akan semakin tertarik kepada sekolah tersebut. R. Jones dan Jennifer
(2009) membagi kultur sekolah menjadi kultur yang kuat (strong) dan lemah
(weak). Ketika semua elemen bekerja sama satu sama lain dengan sangat
baik, mulai dari kepala sekolah hingga petugas keberhsihan, maka dapat
dipastikan kultur sekolah tersebut adalah kuat. Maka sebaliknya, ketika masih
banyak dari elemen sekolah yang tidak dapat berkomitmen terhadap kultur sekolah,
bisa dikatakan kultur sekolah tersebut adalah lemah.
Koentjaraningrat
(2003:72) menyatakan bahwasanya kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, rasa,
tindakan, dan karya yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan bermasyarakat,
yang dijadikan miliknya dengan belajar. Ariefa Efianingrum (2009:21)
mengungkapkan kultur adalah pandangan hidup yang diakui sekelompok masyarakat,
cara pikir, perilaku, sikap, nilai yang baik dalam bentuk fisik maupan abstrak.
Kultur secara tidak langsung akan diturunkan dari generasi ke generasi, oleh
sebab itu sekolah merupakan lembaga terdepan yang dirancang untuk melancarkan
proses tranmisi kultural antar generasi. Kultur atau kebudayaan adalah milik
bersama suatu anggota masyarakat, penyebarannya melalui cara belajar dan lewat
simbol yang terwujud dalam bentuk ucapan maupun bukan. Oleh karena itu setiap
masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda diantaranya disebabkan oleh pengalaman,
proses belajar, dan lingkungan yang serba beda. Hal ini juga termasuk dalam
kultur sekolah, dimana masing-masing sekolah memiliki kebudayaan atau kultur
yang berbeda atau tidak sama dalam membangun kualitas sekolah.
Menurut Siti
Irine Astuti (2009:74) budaya sekolah menyebabkan berbagai hal yang membedakan
sekolah satu dengan sekolah lainnya, antara lain adalah :
a. Perubahan
kebijakan pendidikan.
b. Kecepatan
sekolah dalam merespon perubahan.
Untuk mewujudkan kultur sekolah yang
baik dan pola relasi sosial yang bersifat baik pula, dibutuhkan kerjasama
antara pihak sekolah dan keluarga murid untuk merumuskannya sehingga mampu
menjabatani kepentingan transmisi nilai, sebagaimana yang diungkapkan oleh
Ariefa Efianingrum (2007:51).
Deal dan
Kennedy (2003:3) mendifinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai
milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga suatu
masyarakat. Moerdiyanto (1995:78-86) mengutip definisi tentang kultur sekolah dari
Stolp dan Smith yang mengatakan kultur sekolah sebagai hasil kreasi bersama
yang bisa dipelajari serta teruji dalam memecahkan kesulitan yang dihadapi
sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri, dan bernurani.
Kultur sekolah juga bisa dikatakan sesuatu yang tumbuh dari spirit dan nilai
tertentu. Misalnya sebuah sekolah yang memiliki nilai dan spirit disiplin diri,
tanggung jawab, kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, dll. Spirit dan nilai
tersebutlah yang memengaruhi pembuatan struktur organisasi sekolah, sistem dan
prosedur kerja sekolah, seremonial sekolah, dan masih banyak hal yang
dipengaruhi oleh nilai dan spirit tersebut. Biasanya kultur sekolah ditampilkan
dalam bentuk bagaimana masyarakat sekolah khususnya, kepala sekolah dan guru
bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lain sehingga menjadi tradisi.
Aan Komariah
(2006:121) menganggap kultur sekolah sebagai eksistensi suatu sekolah yang
terbentuk dari hasil yang saling memengaruhi antara sikap, kepercayaan,
norma-norma, dan hubungan individu di sekolah. Kesulitan utama yang dihadapi
sekolah sampai saat ini adalah membentuk budaya disiplin dan merupakan program
utama dari sekolah yang terus menerus diupayakan sejak lama oleh sekolah.
Bahkan sampai sekarang untuk menanamkan disiplin dalam belajar mengalami
kesulitan, karena sekolah masih belum berhasil menanamkan kesadaran akan pentingnya
belajar. Contoh kecil dari sulitnya menerapkan disiplin di sekolah adalah
dengan banyaknya siswa yang masih telat datang ke sekolah, tidak tertib
mengerjakan tugas, bahkan ada yang masih malas untuk belajar.
Budaya
sekolah juga bisa dikatakan jaringan tradisi serta ritual yang kompleks dan
telah dibangun dari waktu ke waktu oleh para guru, siswa, orang tua, dan administrator
yang bekerjasama dalam menangani krisis maupun prestasi. Pola budaya sangat
abadi, memiliki dampak kuat pada kinerja, dan membentuk orang berpikir,
bertindak, dan merasa.
Seiring berjalannya
waktu, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan
keberhasilan mereka, untuk memberikan kesempatan selama tradisi kolektif, dan
untuk mengakui kontribusi atau peran masyarakat terhadap sekolah. Budaya
sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai
inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Cerita
merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur
tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena
menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.
Menurut peterson
(2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan
bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan
sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan Williard Waller
(2011) mengakatan sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka
sendiri. Di sekolah ada ritual yang komplek dalam hubungan interpersonal, satu
set kebiasaan, adat istiadat, sanksi irasional, dan kode moral yang berlaku
diantara mereka, yaitu guru, kepala sekolah, orang tua siswa, dan siswa.
2. Karakteristik Kultur Sekolah
Kultur
sekolah diharapkan selalu memperbaiki mutu dan kinerja sekolah yang diharapkan
memiliki ciri yang sehat, dinamis, aktif, positif, dan professional. Sekolah
juga perlu memperkecil segala hal yang berbau negatif, beracun, bias, dan
dominatif. Kultur sekolah yang sehat memberikan peluang kepada sekolah dan
warganya untuk berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh
vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan diharapkan mampu terus berkembang
menjadi lebih baik waktu ke waktu.
Bukan hanya kultur
sekitar yang memengaruhi kultur sekolah, melainkan antar lapisan-lapisan kultur
tersebut. Dinamika mengenai kultur sekolah juga tidak dapat dihindari yang
kemudian menghadirkan konflik tidak disengaja dan jika penangannya dilakukan
dengan tidak bijak, maka akan membawa dampak yang buruk, begitu juga
sebaliknya, jika konflik ini ditangani dengan bijak dan sehat, maka akan
mengarahkan ke hal yang positif.
Adapun
kultur yang direkomendasikan oleh Depdiknas untuk dikembangkan atau diterapkan
adalah :
a. Kultur yang terkait dengan
prestasi atau kualitas. Kultur prestasi atau kualitas ini bisa berupa semangat
membaca dan mencari referensi dikalangan siswa, termasuk juga kedalamnya
kecerdasan emosional siswa, keterampilan siswa dalam mengkritisi data dan memecahkan
masalah hidup, keterampilan dalam komunikasi, serta kemampuan siswa untuk
berpikir obyektif dan sistematis.
b. Kultur yang terkait dengan
kehidupan sosial. Yang termasuk ke dalam kultur ini adalah nilai-nilai
keimanan, ketaqwaan, keterbukaan, kejujuran, semangat hidup, semangat belajar,
menyadari diri sendiri dan orang lain, persatuan dan kesatuan, dan beragai
nilai positif lainnya yang berkaitan dengan kehidupan sosial siswa.
Jumadi
(2006:6) menegaskan kultur sekolah yang berkembang dapat dilihat dari berbagai
tanda sesuai fokus yang dikembangkan, antara lain:
a. Adanya
rasa kebersamaan dan hubungan sinergis diantara warga sekolah.
b.
Berkurangnya pelanggaran disiplin.
c. Adanya
semangat atau gairah dalam menjalankan tugas,
d. dan lain
sebagainya.
3. Identifikasi Kultur Sekolah
Lapisan
budaya menurut Kotter (2003:7-8) terbagi atas dua yaitu:
a. Lapisan yang bisa diamati dan
sebagian tidak teramati. Lapisan ini terdiri dari arsitektur, tata ruang,
kebiasaan, rutinitas, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, sopan
santun,cara berpakain. Lapisan pertama budaya berupa norma-norma kelompok atau
cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya
sulit diubah dan biasa disebut artifak.
b. Lapisan kedua adalah nilai yang
dianut bersama berhubungan dengan baik, benar, dan penting.
Lapisan
kultur sekolah yang terdalam berupa nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang
ada di sekolah dan tidak dapat dikenali tetapi berdampak terhadap perilaku warga
sekolah. Inilah yang menjadi ciri utama suatu sekolah. Norma-norma seperti
ungkapan “rajin pangkal pandai” dan “air beriak tanda ‘tak dalam” dan berbagai
hal lainnya inilah yang merupakan bagian dari kultur sekolah.
Kepala
sekolah harus menjadi contoh dalam berinteraksi karena dia merupakan sentral
dalam pengembangan kultur sekolah. Ia juga harus memiliki komitmen terhadap
tugas, seperti jujur dalam bicara dan berperilaku, selalu musyawarah, dan
menghargai pendapat orang lain karena dia merupakan model bagi seluruh warga
sekolah.
Kultur
sekolah bersifat tiga macam, ada yang positif, negatif, dan netral. Tentunya kultur
positif adalah kultur yang mendukung sepenuhnya peningkatan kualitas bagi
pendidikan. Saling percaya antar warga sekolah, kerjasama dalam menggapai
prestasi, dan penghargaan terhadap yang berprestasi, semua itu termasuk ke
dalam contoh kultur positif yang ada di sekolah. Kultur negatif, sesuai
namanya, adalah kultur yang kontra atau menghambat peningkatan kualitas
pendidikan. Sebagai contoh banyak jam kosong, warga sekolah saling menjatuhkan,
dan lain sebagainya. Sedangkan kultur yang netral adalah kultur yang tidak
mendukung dan tidak pula menghambat kualitas pendidikan.
Dalam pengembangan
kultur sekolah dapat dipahami kultur dapat dikenali melalui pencerminannya pada
berbagai hal yang dapat diamati disebut artifak. Artifak ini dapat berupa:
a. Perilaku
verbal : ungkapan lisan atau tulis dalam bentuk kalimat maupan kata.
b. Perilaku
non-verbal : ungkapan yang berupa tindakan.
c. Benda
hasil budaya : arsitektur, tata ruang, dan sebagainya.
Dibalik
artifak tersebutlah tersembunyi kultur yang dapat berupa :
a.
Nilai-nilai : mutu, disiplin, dan toleransi.
b. Keyakinan
: tidak kalah dengan sekolah lain bila mau bekerja keras.
c. Asumsi : semua anak dapat
menguasai bahan pelajaran, hanya masalah waktu yang berbeda.
Kepala
sekolah harus memberi perhatian terhadap aspek informal, simbolik, dan yang tidak
tampak dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga
sekolah untuk membangun kultur sekolah. Dan juga tugas kepala sekolah adalah
mendukung atau menciptakan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal
yang dikerjakan di sekolah. Apabila kepala sekolah menjalankan ini semua, maka
dapat dipastikan urusan lainnya akan berjalan lancar beriringan.
Kepala
sekolah yang berhasil menurut Senge (2003:14) adalah yang memiliki
karakteristik sebagai berikut :
a.
Mensosialisasikan visi dan misi sekolah dan bagaimana mencapai itu semua.
b. Menjelaskan
harapan sekolah terhadap guru maupun siswa.
c. Selalu
tampak atau hadir di sekolah.
d. Dipercaya
guru dan siswa.
e. Membantu
pengembangan guru.
f. Memiliki
rasa humor,
g. dan lain
sebagainya.
0 Komentar