STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi berasal dari bahasa Latin,
yaitu‘strategia’ yang berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai
tujuan. Secara umum strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan
untuk menyelesaikan suatu tugas (Beckman, 2004: 1). Dalam konteks pembelajaran,
strategi berkaitan dengan pendekatan dalam penyampaian materi pada lingkungan
pembelajaran. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan
pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan
karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, lingkungan sekitar dan tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode,
teknik, dan prosedur yang akan menjamin bahwa peserta didik akan betul-betul
mencapai tujuan pembelajaran.
Secara umum strategi pembelajaran dapat
dikatakan sebagai keseluruhan pola umum kegiatan pendidik dan peserta didik
dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan,
secara efektif dan efisien terbentuk oleh paduan antara urutan kegiatan, metode
dan media pembelajaran yang digunakan, serta waktu yang digunakan pendidik dan
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
B. Komponen-Kompenen Strategi
Pembelajaran
Dick dan Carey (1996: 184) menyebutkan
bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran
pendahuluan, penyampaian informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan
lanjutan.
1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan pembelajaran pendahuluan
memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Pada kegiatan ini pendidik
diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang akan
disampaikan. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat
memotivasi peserta didik untuk belajar. Cara guru mempekenalkan materi
pelajaran melalui contoh-contoh ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari atau
cara guru menyakinkan apa manfaat mempelajari pokok bahasan tertentu akan
sangat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik (Nurani, dkk.,2003: 1.9).
2. Penyampaian Infromasi
Dalam kegiatan penyampaian informasi,
pendidik akan menetapkan secara pasti informasi, konsep, aturan, dan
prinsip-prinsip apa yang perlu disajikan kepada peserta didik. Di sinilah
penjelasan pokok tentang semua materi pembelajaran. Kesalahan utama yang sering
terjadi pada tahap ini adalah menyajikan informasi terlalu banyak, terutama
jika sebagian besar informasi itu tidak relevan dengan tujuan pembelajaran (Al
Muchtar, dkk, 2007: 2.7). Di samping itu, pendidik harus memahami dengan baik
situasi dan kondisi yang dihadapinya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam penyampaian informasi, yaitu urutan, ruang lingkup, dan jenis materi.
3. Partisipasi Peserta Didik
Partisipasi peserta didik sangat penting dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Nurani,dkk., 2003: 1.11). Terdapat beberapa hal penting yang terkait dengan partisipasi peserta didik, yaitu :
a. Latihan dan praktik seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu pengetahuan, keterampilan dan sikap.
b.Umpan balik. Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil belajarnya, maka pendidik memberikan umpan balik terhadap hasil belajar tersebut.
4. Tes
Ada dua jenis tes atau penilaian yang
biasa dilakukan oleh kebanyakan pendidik, yaitu pretest dan posttest (Al
Muchtar, 2007: 2.8). Secara umum tes digunakan oleh pendidik untuk mengetahui
apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum dan apakah
pengetahuan, keterampilan dan sikap telah benar-benar dimiliki peserta didik
atau belum. Pelaksanaan tes biasanya dilaksanakan diakhir kegiatan pembelajaran
setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, yaitu penjelasan
tujuan diawal kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi
pembelajaran. Di samping itu, pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta
didik melakukan latihan atau praktik (Nurani, dkk., 2003: 1.12).
5. Kegiatan Lanjutan
Kegiatan lanjutan atau follow up, secara prinsip ada hubungannya dengan hasil tes yang telah dilakukan. Karena kegiatan lanjutan esensinya adalah untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik (Winaputra, 2001: 3.43). Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik antara lain adalah sebagai berikut.
a.Memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah
b.Menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik
c.Membaca materi pelajaran tertentu
d.Memberikan motivasi dan bimbingan belajar.
C. Prinsip Strategi Pembelajaran
Menurut Sanjaya setidaknya ada empat prinsip strategi pembelajaran, yaitu :
a.Berorientasi pada tujuan. Dalam sistem pembelajaran, tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas pendidik dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran
b.Aktivitas. Belajar bukan hanya menghafal sejumlah fakta atau informasi, tapi juga berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
c.Individualitas. Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun pendidik mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.
d.Integritas. Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta didik. Dengan demikian, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan aspek psikomotor.
D. Macam-Macam Strategi Pembelajaran
Strategi pembelelajaran terdiri dari
berbagai macam, diantaranya adalah strategi pembelajaran ekspositori, strategi
pembelajaran inkuiri, strategi pembelajaran berbasis masalah, startegi
pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran afektif, strategi pembelajaran
konstekstual, strategi pembelajaran aktif, dan strategi pembelajaran quantum.
1. Strategi Pembelajaran Ekspositori
Menurut Sanjaya (2006: 177), strategi
pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara verbal dari seorang pendidik kepada sekolompok
peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran
secara optimal. Strategi pembelajaran ekspositori cenderung menekankan
penyampaian informasi yang bersumber dari buku teks, referensi atau pengalaman
pribadi.
Strategi pembelajaran ekspositori berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut.
a. Penyajian informasi. Penyajian informasi ini dapat dilakukan dengan ceramah, latihan, atau demonstrasi.
b. Tes penguasaan dan penyajian ulang bila dipandang perlu.
c.Memberikan kesempatan penerapan dalam bentuk contoh dan soal, dengan jumlah dan tingkat kesulitan yang bertambah.
d.Memberikan kesempatan penerapan informasi baru dalam situasi dan masalah sebenarnya.
2. Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara
kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006: 194).
Menurut Sanjaya (2006: 194-195), ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, yaitu :
a.Strategi inkuiri menekankan keaktifan peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.
b.Seluruh kegiatan yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
c.Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
3. Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah
Strategi pembelajaran berbasis masalah
dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang difokuskan kepada
proses penyelesaian masalah/problema secara ilmiah. Problema tersebut bisa
diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa yang
terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau dari
peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat.
Ada tiga karakteristik penting dari SPBM, yaitu :
a. SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam pelaksanaan SPBM, peserta didik tidak hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi juga peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi mencari dan mengolah data, serta menyimpulkan.
b. Aktivitas pembelajaran difokuskan untuk menyelesaikan masalah. Masalah harus ada dalam implementasi SPBM. Sebab tanpa adanya masalah dalam SPBM, maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
c.Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. (Sanjaya, 2006: 212)
4. Strategi Pembelajaran Kooperatif
Menurut Reinhartz dan Beach (1997: 158),
strategi pembelajaran kooperatif adalah strategi dimana para peserta didik
bekerja dalam kelompok-kelompok atau tim-tim untuk mempelajari konsep-konsep
atau materi-materi.
Ada empat ciri penting dari sistem pembelajaran kooperatif, yaitu :
a.Heterogenitas : Kelompok dibentuk secara heterogen dan multicultural dalam arti jenis kelamin, kemampuan akademis, dan suku.
b.Jenis-jenis tugas diberikan kepada kelompok : Kebanyakan jenis tugas yang diberikan menuntut setiap kelompok untuk mempelajari materi yang sebelumnya telah disajikan oleh pendidik. Di samping itu, tugas-tugas biasanya diberikan dalam bentuk kerja kelompok.
c.Tanggungjawab individu : Tanggungjawab individu diantaranya adalah tanggungjawab pada diri sendiri dan kelompok, membantu dan mendorong anggota kelompok, membantu teman sebaya melalui tutorial dan kerjasama.
d.Sistem penghargaan : Individu menerima penghargaan didasarkan usaha individu dan prestasi kelompok. Di satu sisi, kelompok dapat berkompetisi antara satu dengan lainnya. Di sisi lain kelompok berkompetisi dengan kelompok mereka sendiri dan akan memperoleh penghargaan yang lebih baik jika mereka memperoleh skor prestasi melebihi skor prestasi sebelumnya.
4. Strategi Pembelajaran Afektif
Strategi pembelajaran afektif adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada pembentukan sikap yang
positif pada diri peserta didik. Strategi pembelajaran afektif pada umumnya
menghadapkan peserta didik pada situasi yang mengandung konflik atau situasi
yang problematis. Melalui situasi ini diharapkan peserta didik dapat mengambil
keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik (Sanjaya, 2006: 277).
5. Strategi Pembelajaran Kontekstual
Strategi pembelajaran konstekstual atau
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka
(Sanjaya, 2006: 253).
Menurut Sanjaya (2006: 254), terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL, yaitu :
a.Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
b. Pemerolehan dan penambahan pengetahuan baru.
c.Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihapal tetapi untu dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
d.Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan peserta didik,
e.Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
Strategi pembelajaran aktif terdiri dari :
a.Card Sort (Sortir Kartu) : Strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta, tentang objek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamisir kelas yang jenuh dan bosan (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 53).
b.The Power of Two (Kekuatan Dua Kepala) : Strategi pembelajaran ini digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta manfaat sinergi dua orang.Strategi ini mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua jauh lebih baik daripada berpikir sendiri (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 55).
c.Team Quiz (Kuis Kelompok) : Strategi ini dapat meningkatkan tanggung jawab belajar peserta didik dalam suasana yang menyenangkan.
d.Jigsaw : Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian.
e.Every One is a Teacher Here : Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Strategi ini memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai pendidik bagi kawankawannya. Dengan strategi ini, peserta didik yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.
f.Snow Balling : Strategi ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi peserta didik secara bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil kemudian dilanjutkan dengan kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh peserta didik secara berkelompok.
g.Information Searc (Mencari Informasi) : Strategi ini sama dengan ujian open book. Secara berkelompok peserta didik mencari informasi (biasanya tercakup dalam pelajaran) yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada mereka.
h.Peer Lesson (Belajar dari Teman) : Strategi ini baik digunakan untuk menggairahkan kemauan peserta didik untuk mengajarkan materi kepada temannya. Jika selama ini ada pameo yang mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu peserta didik di dalam mengajarkan materi kepada temanteman sekelas (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 65).
i.Index Card Match (Mencari Pasangan) : Strategi ini cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan(Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 69)
j.The Learning Cell : Strategi ini merupakan salah satu sistem terbaik untuk membantu pasangan peserta didik belajar dengan lebih efektif. Strategi ini dikembangkan oleh Goldschmid. Strategi ini, menunjuk pada suatu bentuk belajar kooperatif dalam bentuk berpasangan, dimana peserta didik bertanya dan menjawab pertanyaan secara bergantian berdasar pada materi bacaan yang sama (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 89).
7. Strategi Pembelajaran Quantum
Strategi pembelajaran quantum merupakan
sebuah program percepatan pembelajaran yang ditawarkan learning forum, yaitu
sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan
keterampilan akademis dan keterampilan pribadi.
Strategi pembelajaran quantum bersandar
dan berlandaskan pada konsep “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan
dunia kita ke dunia mereka”. Inilah asas atau landasan utama alasan dasar di
balik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Segala hal yang
dilakukan dalam kerangka Quantum Teaching- setiap interaksi dengan peserta
didik, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional di bangun
atas prinsip Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke
dunia mereka (DePorter, 2003: 6).
0 Komentar